Menjadi orang tua di bulan Juni dan Juli

Menjadi orang tua di bulan Juni dan Juli 

Baru terasa bagaimana stress dan lintang pukangnya orang tua sewaktu anaknya menginjak diakhir kelas sekolah menengah atas untuk mencari universitas pilihan. Itu menjadi bagian pengalaman saya sekarang ini. Itu juga yang mengingatkan saya akan cepatnya waktu terlintas sehingga saya setua ini (Hmmmm, perasaan muda terus…). 

Pertama, pengalaman akan keinginan orangtua terhadap anak. Membebaskan pilihan dan melihat bakat apa yang dia punya merupakan suri tauladan yang didapat dan sangat terlihat bagus diterapkan. Maunya saya sih dia jadi engineer seperti ortu nya, tapi kalau melihat kemampuan bahasa dia diatas rata-rata,,,ya saya harus akui lebih baik melepas ujian IPA nya dan konsentrasi di mata ujian IPS. Walaupun sebenarnya keinginan kita sebagai ortu untuk mencoba tapi akhirnya kita kembalikan saja ke empunya. 

Kedua, pengalaman berdebar menunggu hasil test, padahal yang berkenan tenang aja…. Pada saat tulisan ini di buat, pengumuman SPMB belum keluar. Tapi bukan itu yang ingin di utarakan disini, menunggu hasil ujian dimana ujian universitas negeri UNPAD saja sudah buat kita senewen. Sewaktu dikatakan bahwa hasil ujian sudah bisa diakses via internet, kita bergegas ke komputer,,,,itu layar komputer sudah didepan mata dia, tapi sekian lama terpampang,,,tidak berani untuk memasukan nomor ujian. Kita yang melihat gregetan beneer…. Pada saatnye mengetikkan nomor, begitu juga waktu yang dibutuhkan untuk menekan ’Enter’, lammma. Mungkin memang harus penuh dengan doa kali yaa, sehingga ketika hasil terpampang, semua terperanjat, memekik dan berpelukan senang. Lulus juga dia… Alhamdulillah. 

Ketiga, mencari tahu kondisi tempat. Walaupun masih ada kesempatan untuk menguji hasil jerih payahnya selama ini dengan SPMB, namun perlu juga tahu bagaimana situasi tempat dan kondisi kalau dia sudah menjalaninya. Tiba saatnya untuk melihat langsung wisma atau pondokan ditempat yang sudah jelas di dapatkan. Setelah tahu akan kemana, rupanya cukup kaget juga kalau harus ke Jatinangor! Hmmmm, saya pikir macet itu hanya milik Jakarta atau Bandung, tapi setelah sampai tempat ini, stress rupanya tak mau hilang karena jalan penuh sesak ke dan dari kampus UNPAD Jatinangor! Hebat memang. 

Ke empat, mencari tahu tempat pondokan. Setelah melihat seluruh opsi yang ada di daerah tersebut, akhirnya didapat kesimpulan untuk mencari yang dekat dekat kampus saja. Pilihan jatuh pada wisma dosen yang berubah fungsi menjadi pondokan mahasiswa. Not too bad choice, satu tahun pertama saya pikir cukup memberikan pengetahuan akan situasi dan kondisi tempat sehingga bisa memberikan pilihan selanjutnya pada tahun berikutnya. 

Ke lima, hari dimana SPMB berlangsung. Mendapatkan tempat untuk test yang cukup jauh dari rumah. Maksud hati untuk meninggalkan sendiri sehingga dia bisa berdikari tapi pada akhirnya tidak sampai hati. Agak susah memang meninggalkan anak prerempuan di jaman sekarang, selalu kepikiran. Pada akhirnya, kita cari rumah saudara yang dekat, menginap selama satu hari untuk 2 hari ujian. Memang dia diantar oleh ibunya, tapi meninggalkan pekerjaan dan anggota lain dirumah. Asyiik,,, mengingat biasanya cuma nyuruh doang…. 

InsyaAllah dari pengalaman dan kesibukan kita kali ini, semoga menjadi bagian yang terbaik sebagai orang tua dan memberikan landasan untuk anak yang lain, Amiin. Kalau ada rekan lain yang dapaat memberikan inputan bagi saya sebagai orang tua baru”,,, sangat diharapkan.

 

Three against the sun

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *