Berhasil juga akhirnya menyelesaikan proyek pembuatan GPS untuk kamera DSLR saya si D300, 2 minggu lalu dan berhasil dipakai sewaktu acara hunting di pasar terapung, Banjarmasin, minggu kemaren.
Ide dasarnya dari desain Rick Wargo yang telah secara detail memberikan langkah pembuatannya. Site dari Rick ini lah cikal bakal pembuatan GPS saya. GPS ini juga bisa digunakan bagi yang mempunyai kamera Nikon D200, D300, D700 dan D3.
Selongsong kabel (yang mengkerut sewaktu dipanaskan)
Velcro yang ada double tapenya.
Diagram dari proyek:
Click untuk memperbesar.
Desain dasar memakai GPS kompak (EM-406A) yang telah mempunyai antena didalamnya. Saya dapatkan di agen Singapur dengan harga yang relatif murah 100 $S. Satu hal yang saya rasa masih terlalu mahal adalah kabel Nikon tipe 10 pin yang dibuat oleh Stellar Design, harganya cukup mahal sekitar Rp 250 ribu. Alternatifnya, memang banyak di ebay sepertiRemote Cord for Nikon D300 ini, hanya saja ujung kabel perlu di potong dan untuk masuk ke boxnya tidak mempunyai karet pengaman.
Total yang dikeluarkan akan berkisar 1 sampai 1,5 juta rupiah, dibandingkan dengan GPS yang dikeluarkan oleh Nikon sendiri yang berharga 4,5 juta rupiah.
Berikut beberapa gambar:
Kotak kabel telpon yang digunakan untuk menaruh modul GPS beserta kabel Nikonnya:
Click untuk memperbesar.
Lebih dekat koneksi kabel, rangkaian dan dudukan di kotaknya sebelum tertutup.
Click untuk memperbesar.
Rangkaian di boardnya.
Click untuk memperbesar.
Penampang atas.
Click untuk memperbesar.
Kabel Nikon dan kotak telepon Rj11.
Click untuk memperbesar.
Di menu kamera dengan GPS ter lock satelit.
Click untuk memperbesar.
Icon GPS di panel atas kamera akan mengindikasikan kalau GPS bekerja.
Click untuk memperbesar.
Kamera saya dengan GPSnya:
Click untuk memperbesar.
Contoh photo di Banjarmasin dengan EXIF sudah ber lokasi GPS:
Seperti jamaknya organisasi, didalam Hizbullah ada divisi militer yg bertugas melakukan operasi-operasi lapangan. Sebagai anak muda (22 tahun), saya mendambakan ikut bergabung dengan devisi paling bergengsi ini. Saya ingin berbangga diri dan membanggakan keluarga saya yang telah menderita kebengisan Rezim Zionis.
Di sela-sela kegiatan sekolah, saya kemudian berlatih secara fisik dan mental untuk bisa terjun ke medan tempur. Tak kurang dari 4 tahun saya habiskan dalam latihan. Pada tahun 1999, saya mulai diikutkan masuk ke lapangan. Di lapangan, peleton saya termasuk sukses merebut posisi-posisi strategis, mengepung dan menggerebek lawan. Sampai akhirnya kami semua dipanggil untuk diberi tugas baru.
Berbagai tugas baru saya lalui, temasuk melatih anggota-anggota baru. Setelah sekian bulan, saya mendapat tugas istisyhad (istilah barat-israelnya: suicide operation atau operasi bunuh-diri).
Mula-mula saya tenang saja, bahkan bangga. Setelah melewati tahap akhir pematangan rencana, berbagai perasaaan menyerbu hati saya. Kali ini saya merasakan tumpukan pikiran yang aneh-aneh. Saya mulai mempertanyakan kebenaran dan meragukan keefektifan semua ini.
But saya saat itu, membawa senjata dan menembaki musuh adalah sesuatu yang wajar dan rasional. Bahkan, kemampuan saya menembak mati dan mengalahkan lawan itu sudah jadi suatu kesenangan tersendiri. Tepi meledakkan diri, untuk apa?
Bayangan kepastian mati membuat saya benar-benar tergoncang. ‘Kali ini kematian tidak bisa ditawar lagi. Tak ada pelatuk untuk dipicu, tak ada kejar-kejaran, tak ada desing peluru yg mengenai lawan, tidak ada mundur. Yang ada hanya mati. Dan setelah itu adalah alam baru, yang kita tidak sepenuhnya tahu apa yang bakal terjadi.’
Pikiran-pikiran itulah yang menghinggapi saya ketika keluarga saya dengan penuh haru mengantarkan saya ke markaz Hizbullah di Selatan Lebanon, dan truk yg telah disiapkan mengangkut kami berlima menuju tujuan akhir. Tak satupun dari keempat orang yang ada didalamnya yang saya kenal, bahkan tak satupun yang pernah saya lihat sebelumnya. click more dibawah;