There are no secrets to success: Don't waste time looking for them. Success is the result of perfection, hard work, learning from failure, loyalty to those for whom you work, and persistence. Colin Powell (1937-____) US military leader "Colin Powell," 1989
Awal tahun ini alhamdulillah punya kesempatan untuk ke daerah Ciamis dan Tasikmalaya sekitarnya sehingga dapat mengunjungi salah satu tempat wisata yang sedang 'in' di tanah air yaitu Green Canyon, sungai Cijulang, Ciamis.
Berhubung kita perlu sekitar 8 jam untuk ke daerah ini, kita putuskan untuk berangkat siang dan menginap di Tasikmalaya yang kebetulan ada rumah salah satu relative kita disana. Esoknya pagi-pagi dari Tasikmalaya kita butuhkan 4 jam berkendara dan sampai di 'Green Canyon' sekitar jam 10 pagi. Kebetulan hari itu adalah hari Sabtu di awal tahun yang masih merupakan hari libur. Untuk lebih jelas tempat yang dimaksud dapat melihatnya disini.
Sesampainya disana terlihat banyaknya kendaraan ditempat parkir dan setelah membeli tiket baru kita sadar kalau kita sudah merupakan orang ke seribu disana. Perkiraan tersebut adalah tiket nomor perahu sudah mencapai nomor 200 dikalikan 5 orang per perahu.
Sepertinya gapura selamat datang dan tempat pembelian tiket sedang dibangun, sehingga masih terlihat aktifitas pembangunan disana sini. Masuk kedalam sudah banyak orang berkumpul menunggu giliran perahu mereka dan ada juga yang beraktifitas flying fox menyeberangi sungai Cijulang yang bersih dan berwarna kehijauan airnya.
Entah,,kenapa Indonesia sangat terbelakang untuk membentengi penduduknya untuk hal poronografi, dinegara komunis yang nyata-nyata mayoritas tidak islam, tapi menjaga moral rakyatnya lebih islami.
Oleh Asro Kamal Rokan
Ini berita menarik dari Cina. Pemerintah negara ini meningkatkan hadiah uang tunai bagi orang yang melaporkan laman porno. Pekan lalu, Cina menyerahkan sekitar 32 ribu dolar AS sebagai hadiah untuk para pelapor. Kantor Berita Xinhua tidak menyebutkan berapa hadiah untuk setiap orang, namun Pemerintah Cina sangat serius melawan pornografi, yang menurut mereka dapat merusak kesehatan emosional anak-anak.
Selama Desember hingga Januari, Cina telah menerima lebih dari 90 ribu laporan. Pada 2009 lalu, negara ini telah menutup 15 ribu laman pornografi, termasuk juga 11 ribu layanan WAP telepon genggam. Saat ini di negara berpenduduk 1,6 miliar ini, terdapat sekitar 384 juta pengguna internet. Ini jumlah terbesar di dunia. Mereka telah melarang Youtube, Twitter, bahkan juga Facebook.
Keputusan Cina ini memancing konflik, terutama dengan Google.Inc--mesin pencari terkemuka yang juga digunakan di Indonesia. Pekan lalu, Google menyatakan akan keluar dari Cina karena pemerintah itu memberlakukan sensor ketat, termasuk juga terhadap laman, yang secara politik dinilai sensitif. Ancaman Google akan keluar dari Cina tidak membuat negara ini mengubah sikapnya. Mereka tetap melakukan sensor. Dan, ini artinya Google dipaksa untuk ikut atau pergi.
Hebatnya, Cina tidak sekadar menggebrak. Mereka telah mempersiapkan diri apabila mesin pencari terbesar di dunia itu keluar dari Cina. Negara ini telah memiliki mesin pencari sendiri yang bernama baidu. Hebatnya, search engine ini lebih disukai pengguna internet di Cina, bahkan mengalahkan Google. Menurut riset, jumlah pengguna www.baidu.com terus meningkat hingga mencapai 75,7 persen. Sebaliknya, Google terus mengalami penurunan. Selanjutnya,,,click more...
“Dengan tanpa rasa sungkan dan kikuk, saya mengatakan, semua agama adalah tepat berada pada jalan seperti itu, jalan panjang menuju Yang Mahabenar. Semua agama, dengan demikian, adalah benar, dengan variasi, tingkat dan kadar kedalaman yang berbeda-beda dalam menghayati jalan religiusitas itu. Semua agama ada dalam satu keluarga besar yang sama: yaitu ke luarga pencinta jalan menuju kebenaran yang tak pernah ada ujungnya.”
Begitulah salah satu pernyataan tegas seorang pendukung paham Pluralisme Agama di Indonesia, seperti ia tulis dalam artikel di satu koran nasional. Pandangan semacam ini kemudian menyebar ke berbagai penjuru. Klaim kebenaran agama bagi pemeluk masing-masing, dianggap sebagai sesuatu yang tabu. Seolah-olah, kerukunan umat beragama harus dibangun di atas landasan teologi pluralis yang melarang setiap pemeluk agama meyakini kebenaran agamanya masing-masing.
Maka, betapa tesengatnya pendukung Pluralisme Agama di Indonesia, ketika pada tahun 2005, MUI mengeluarkan fatwa yang mengharamkan paham Pluralisme Agama dan menyatakan sesat sejumlah aliran keagamaan. Karena itu, bisa dipahami, jika dalam berbagai seminar dan kesempatan, MUI menjadi bahan caci-maki. Banyak yang kelabakan. Bahkan ada yang kalap. Sebuah Jurnal yang diterbitkan di sebuah kampus Islam di Semarang pada edisi 28 Th XIII/2005, memuat laporan utama berjudul Majelis Ulama Indonesia Bukan Wakil Tuhan. Selanjutnya…